Di Bawah Langit Nirwana - Part 01 (Whisper From The Sky)

Novel Pendek
Oleh: Rizkynindra
Genre: Romance, Sci-Fi
Bab 1: Pagi yang Sunyi

Irky Narendra terbangun dengan nafas yang membeku di udara. Kamarnya gelap, hanya terlihat cahaya redup dari celah jendela yang tertutup salju. Ia meraih selimut tebal di sampingnya dan duduk perlahan di tepi tempat tidurnya. Dingin. Selalu dingin.
Sudah tiga tahun sejak perang besar itu berakhir. Tiga tahun sejak langit Bali berubah menjadi abu-abu kelam, dan salju pertama turun di pulau yang dulu dikenal dengan panasnya cuaca tropisnya. Irky masih ingat betul hari itu, saat sirene berbunyi, saat langit meledak dengan cahaya yang membutakan, dan saat dunia yang ia kenal hancur dalam sekejap.
Tapi yang lebih menyakitkan dari kehancuran fisik adalah kehancuran hati manusia. Perang tidak hanya merusak iklim, tapi juga merusak kepercayaan, kasih sayang, dan kebersamaan. Orang-orang kini hidup dalam ketakutan dan kecurigaan. Tetangga menjadi musuh. Keluarga menjadi asing.
Irky bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke jendela. Ia membuka tirai perlahan. Salju turun lagi pagi ini, menutupi jalanan kota Tabanan dengan tumpukan salju putih yang dingin. Di kejauhan, ia bisa melihat asap dari cerobong rumah-rumah tetangga, tanda kehidupan yang masih berjuang untuk bertahan hidup.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Uap putih keluar dari mulutnya.
"Pagi yang sunyi," gumamnya.

Ia keluar dari kamarnya, melewati ruang tamu yang sepi, dan membuka pintu rumah.
Salju menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Tapi Irky sudah terbiasa. Ia tetap tenang berjalan menuju Sanggah (Pura kecil) di belakang rumahnya. Sanggah itu tertutup salju, tapi Irky selalu membersihkannya setiap pagi sebelum bersembahyang.
Ia menyapu salju dengan tangan telanjang, merasakan dinginnya meresap ke tulang. Setelah bersih, ia menyalakan dupa dan duduk bersila di hadapannya. Matanya terpejam.
"Om Swastiastu," bisiknya.
Irky berdoa seperti yang selalu ia lakukan. Hanya satu pintanya dalam doa, kedamaian kembali menyertai bumi ini. Ia rindu dengan kedamaian dan keramahtamahan manusia yang dulu ia rasakan.
Ia tahu doanya mungkin terdengar naif. Di dunia yang sudah hancur seperti ini, siapa yang masih percaya pada Tuhan? Tapi Irky tidak peduli. Ia percaya bahwa selama masih ada satu orang yang berdoa dengan tulus, masih ada harapan.
Setelah selesai bersembahyang, Irky berdiri dan membersihkan lututnya dari salju. Ia menatap langit yang kelabu. Tidak ada matahari. Tidak ada burung. Hanya salju yang turun tanpa henti.
"Mungkin sebaiknya aku istirahat sejenak di pantai" gumamnya. Bergegas ia mengambil harmonica di laci kamarnya dan berjalan menuju Pantai Kedungu.

Pantai Kedungu dulunya adalah tempat favorit Irky. Tempat di mana ia dan teman-temannya dulu banyak menghabiskan waktu bersama, tertawa sampai matahari terbenam. Tapi sekarang, pantai itu sepi. Ombak masih datang dan pergi, tapi tidak ada lagi tawa. Hanya suara angin yang meraung dingin.
Irky berjalan menyusuri pasir yang tertutup salju. Ia menemukan batu besar di tepi pantai dan duduk di sana. Ia menatap laut yang dingin, ombak yang bergulung dengan tenang.
"Sejatinya, dunia ini masih indah," bisiknya pada dirinya sendiri. "Masih ada keindahan di balik semua kehancuran ini."
Ia menutup matanya dan menarik napas panjang lalu memainkan harmonicanya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian itu, membiarkan pikirannya melayang.
Setelah sepenggal lagu "Senja & Formosa" ia mainkan lewat harmonicanya, ia pun beranjak kembali berjalan menuju ke rumahnya.
Dan saat itulah, tanpa ia sadari, langit mulai menampakkan cahaya hangat sang surya.

Di suatu tempat jauh di atas langit, di dimensi yang tidak bisa dilihat mata manusia, Kyeri berdiri di hadapan Sang Nirwana.
"Kyeri," suara itu bergema lembut namun tegas. "Waktunya telah tiba."
Kyeri menunduk hormat. Rambutnya yang panjang jatuh menutupi wajahnya. "Baik Sang Nirwana"
"Ada sesosok jiwa di Bumi yang memanggilmu. Ia tidak tahu bahwa doanya telah mencapai kami. Ia tidak tahu bahwa hatinya yang tulus telah membuka gerbang Nirwana."
Kyeri mengangkat wajahnya. Matanya yang berwarna biru langit menatap Sang Nirwana dengan lembut. "Apa yang harus hamba lakukan?"
"Turunlah ke Bumi. Temui jiwa itu. Bantu dia untuk menyalakan kembali cahaya di hati manusia. Jika kau berhasil, kedamaian akan kembali. Tapi ingat, Kyeri, kau hanya bisa dilihat oleh mereka yang hatinya masih murni. Jika hatinya ternoda oleh nafsu duniawi, kau akan hilang dari pandangannya."
Kyeri mengangguk. "Hamba mengerti."
Sang Nirwana mengangkat tangannya, dan cahaya putih mulai menyelubungi tubuh Kyeri. "Pergilah, Kyeri. Bawa damai ke Bumi."
Kyeri menutup matanya, dan dalam sekejap, tubuhnya melayang, menembus langit, turun menuju dunia yang tertutup salju.
Irky yang sejenak beranjak dari batu besar itu tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa hangat, seolah ada sumber kehangatan yang tidak wajar di tengah dinginnya salju.
Ia menoleh ke arah laut lepas.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Seorang gadis berdiri di tepi pantai. Rambut hitamnya yang panjang tergerai oleh angin. Kulitnya putih bersih, seolah tidak pernah tersentuh oleh debu dunia. Matanya biru seperti langit cerah yang sudah lama tidak pernah Irky lihat. Ia mengenakan pakaian putih panjang yang berkibar lembut, meskipun tidak ada angin yang terlalu kencang.
Irky terpaku. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa bergerak.
Gadis itu menatapnya, dan senyuman tipis muncul di bibirnya.
"Irky Narendra," suaranya lembut Kyeri membuat Irky tertegun. "Aku mendengar doamu."
Irky berkedip. Ia merasa ini pasti mimpi. Atau mungkin ia sudah mati kedinginan dan ini adalah halusinasi sebelum kematian.
Tapi gadis itu melangkah lebih dekat, dan hangatnya semakin terasa nyata.
"Siapa... kamu siapa?" tanya Irky, suaranya bergetar.
Gadis itu tersenyum lebih lebar. "Namaku Kyeri. Aku datang dari Nirwana."

[Bersambung]